Yussy Akmal : Tak Takut Barsaing Dengan Menguatkan Karakter Produk

0
166
Yussy Akmal
Yussy Akmal pengusaha kue putri daerah yang mampu bersaing dengan usaha sejenis

Kulinerlampung.com, Bandar Lampung — Yussy Akmal toko kue yang menyajikan berbagai macam kue mulai dari jajanan pasar hingga cake dengan varian rasa.

Usaha yang digeluti Yussy Asih Fourini ini sejak tahun 1992 ketika beliau masih duduk di bangku SMA, telah dikenal oleh kalangan pecinta kue di Provinsi Lampung.

Prodak yang dihasilkan pada waktu itu kue jajanan pasar

Gerai Yussy Akmal yang tersebar di 4 titik strategis kota Bandar Lampung. Jalan Jenderal Sudirman, Kedaton, Lampung Walk Urip Sumoharjo dan di Teluk Betung dekat kelenteng Thai Hin Bio.

Alumni SMAN 2 Bandar Lampung ini memulai usahanya dengan menggunakan 1 kilogram tepung terigu, mentega, gula, dan juga telur.

Yussy Akmal tak lagi hanya memproduksi kue, tetapi juga bertambah ke bakery, cake ulang tahun dan banyak lagi varian cake. Sedangkan aneka kue mulai dari moci, martabak, sosis solo sampai pie pisang tetap menjadi kue legendaris yang selalu tersedia di Yussy Akmal.

Yussy Akmal
Berbagai kue yang ditawarkan Yussy Akmal pada pelanggannya

Yussy Akmal terus mengembangkan jenis cake, berinovasi mengikuti market dengan tetap berpijak pada ciri khasnya yaitu jajanan pasar, namun dibentuk dan dikemas dengan gaya modern hingga toko kue Yussy Akmal tak khawatir sama sekali akan disaingi dengan toko kue yang lain.

Rasa kue dengan khas tradisional pun dipadukan dengan resep international yang bisa diterima lidah siapapun. Baik tua maupun muda, tak sungkan menikmati berbagai kue yang disediakan di Yussi Akmal. Bahkan, kita akan cenderung bangga menikmati resep tradisional yang dibaurkan dengan resep internasional.

“Setiap toko kue atau pun bakery pasti punya ciri khas tersendiri untuk produknya. Selain Pie Pisang yang sudah banyak dikenal, kami juga punya Banciz alias Banana Chese” papar Ibu Dewi sambil menyuguhkan Bananana Chese untuk tim Jajanan Lampung.

Sesuai namanya, Banana Chese adalah bolu pisang yang dipadukan dengan keju yang dipanggang.

Ketika potongan bolu tersebut mendekat ke hidung, wangi aroma keju dan pisang sangat menggugah selera. Dan ketika masuk ke mulut, rasa keju yang gurih dan manisnya pisang membaur dengan cetar di lidah. Nah, mungkin inilah salah satu kelebihan Yussy Akmal dalam mengolah produknya.

Segala cake yang dipajang di toko bisa tahan selama dua hari karena tanpa bahan pengawet sama sekali. Kalau untuk kue tart, brownis, black forest dan juga tiramisu bisa tahan selama seminggu. Dan kalau telah melampaui waktu, cake akan ditarik. Namun itu sangat jarang terjadi, karena Yussy Akmal laris manis terus setiap hari.

kue cake
Segala cake yang dipajang di outlet Yussy Akmal

“Pokoknya 1 kilogram semua deh,” kata Ibu Dewi Rabiatuladawiyah Akmal yang merupakan adik dari Ibu Yussy. Brand Yussy Akmal diambil dari nama Ibu Yussy sendiri dan Akmal adalah nama ayah mereka. Bakat membuat kue diturunkan dari nenek yang sering diminta masyarakat sekitar untuk membuat kue di acara hajat atau untuk kepentingan besar lainnya.

Di tahun-tahun awal produksi itu, Yussi Akmal baru dikenal oleh masyarakat sekitar jalan Dahlia Rawa Laut Bandar Lampung. Namun karena kue yang dihadirkan banyak disukai pelanggan dan terkenal enak serta higienis, berita baik itu merambat dari mulut ke mulut hingga hotel dan kantor daerah sekitar banyak yang memesan.

“Waktu itu, kue yang kami tawarkan adalah aneka jajanan pasar dengan harga 350 rupiah. Pesanan baru bertahap puluhan sampai ratusan kotak. Namun lama-lama sampai kepada pesanan seribu kotak, kami mulai kelabakan karena produksi masih manual saat itu,” kenang Ibu Dewi yang berperan sebagai wakil Ibu Yussy yang mengoperasikan bisnis, baik mengawasi produksi dan juga menangani 4 gerai Yussy Akmal sekaligus.

Ibu Dewi yang merupakan anak keempat dari bapak Akmal ini bertambah sibuk karena Ibu Yussy sedang melanjutkan study di London untuk mendalami ilmu cake. Waahh… tuh, kan… Yussy Akmal tidak main-main dalam memperhatikan kualitas produk.

Yussy Akmal terus berinovasi mengikuti selera pasar dan perkembangan zaman. Sang pemilik pun tak tanggung-tanggung untuk menjemput dan menuai pengalaman sampai jauh-jauh belajar ke negeri Eropa sana.

Alasan Ibu Yussy Akmal memilih bisnis kue ini karena memang beliau hobby membuat kue dan dukungan keluarga yang sangat besar menjadi penyemangat bagi Ibu Yussy yang lahir pada 20 Maret 1975 untuk mengembangkan bisnisnya.

“Sejak awal memulai bisnis ini, kami sekeluarga kakak beradik ikut turun tangan membantu Bu Yussy,” kata Ibu Dewi yang sangat bangga dengan Ibu Yussy yang merupakan anak ketiga dari Bapak Akmal.

Karena permintaan yang semakin banyak, akhirnya Ibu Yussy memutuskan untuk membuka toko di dekat rumahnya. Toko tersebut hanya berukuran 2,5 X 2,5 meter persegi.

Namun lama-lama toko tersebut terasa semakin sesak dengan konsumen yang mebludak dan juga kue-kue yang tak pernah berhenti diproduksi.

Sebab itulah, Yussy Akmal memutuskan untuk membuka gerai yang jauh lebih besar di jalan Jenderal Sudirman. Kejelian memperhatikan market dan kemauan yang keras untuk terus memenuhi kebutuhan pasar,

“Apa yang ditanya konsumen, kami berusaha memenuhi. Kami tak mau jika ada orang yang masuk ke toko kami, lalu pulang dengan tangan hampa dan kecewa. Dan itu adalah tantangan tersendiri buat kami,” ujar Ibu Dewi dengan bersemangat.

“Dalam berproduksi, kami terus berembuk dengan tim, mencari rasa terbaik dengan bahan terbaik tentunya.

Terus memecahkan tantangan. Apalagi Lampung ini mayoritas penduduknya multikultur dan seleranya berkiblat pada apa yang ada di Jakarta. Kalau sudah booming di televisi ataupun media sosial, pasti ada saja konsumen yang menanyakan kue jenis itu kepada kami. Seperti ketika dulu Rainbow Cake sedang meledak di pasaran, kami pun merasa tertantang dan menyediakannya dengan senang hati.

Pei Pisang
Pei Pisang kue yang melegenda di Yussy Akmal

Kami tak ingin konsumen masuk toko kami namun keluar dengan tangan kosong. Apalagi bila mengingat toko yang ada di jalan Jenderal Sudirman. Konsumen di sana kebanyakan adalah orang kantoran dengan kalangan ekonomi menengah ke atas. Jadi mereka bukan melihat harga ketika membeli, tetapi produk kue kami. Harga tak jadi masalah buat mereka asalkan cake yang mereka maksud tersedia, konsumen tak segan membeli cake dengan harga satu juta ke atas.

Kalau kita menyediakan yang biasa, justru mereka tak mau beli,” terang Ibu Dewi. Berangkat dari permintaan pasar yang seperti itu, Yussy Akmal berpikir dan memutuskan untuk melayani permintaan konsumen dengan setulus hati.

“Kami senang kalau konsumen puas,” tandasnya. Dan hal ini berbeda dengan toko yang ada di Kedaton. Yussy Akmal paham akan selera pasar. Kalau di Kedaton ini konsumennya rata-rata mahasiswa dan ibu-ibu yang maunya serba cepat dan ringkas.

Ibu-ibu yang belanja di seputaran Kadaton banyak yang cari oleh-oleh dan mahasiswanya adalah anak muda pintar yang selalu mengikuti perkembangan zaman dan kekinian. Sebab itulah, Yussi Akmal menyuguhkan cake dalam bentuk paket untuk toko yang ada di Kedaton.

Nah, gimana tuh, pembaca? Yussy Akmal toko kue yang meyuguhkan penganan tradisional yang memadukan rasa internasional dan mengikuti perkembangan zaman, bukan? Bagi anda pecinta cake, pasti makin penasaran.

Silakan datangi Yuk monggo para Juragan, Nyonya, Nona, Tuan, Kiyay dan Batin sekalian, kita borong semua kue di Yussy Akmal. (KL).

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here