Ekowisata Way Biha Wisata Alam Memacu Andrenalin

0
152
Ekowisata Way Biha
Sungai dengan air yang jernih dan hutan alami di Ekowisata Way Biha siaga
Kuliner.com,Lampung Barat–USAI melahap trek Jalan Lintas Barat (Jalinbar) dari Bandar Lampung sejauh sekitar 100 km, sampailah tim Jajanan Lampung di Kabupaten Pesisir Barat.
Walau menempuh rute yang begitu jauh, pesona alam yang dinikmati sepanjang perjalanan cukup mujarab menjadi penawar jenuh di atas kendaraan.

Salah satunya, ketika tim menempuh Jalinbar Kota Agung—Way Biha. Sampai di Tanjakan Sedayu, jalan yang membelah rimbunnya hutan Taman Nasional Bukit Barisan Selatan (TNBBS) itu menawarkan sensasi berkendara yang berbeda.

Tak jarang, saat melintasi jalur tersebut, ditemui gerombolan hewan liar di tengah jalan. Monyet, rusa, babi hutan, harimau, bahkan gajah akan memaksa Anda menjeda perjalanan saat mereka melintas aspal. Antara “wah” dan bikin bergidik, tapi itulah sensasi khas di Tanjakan Sedayu.

Akhirnya, tim merapat ke destinasi yang dituju: Way Biha! Tak langsung menunju lokasi wisata, Edy Edward, pengurus Wisata Way Biha, menggiring kami serombongan ke Sekretariat Ekowisata Way Biha. Di sana, kami diberikan wejangan terkait sajian apa yang ditawarkan alam Way Biha.

Hanya dari lisan Edy, adrenalin kami sudah menggebu untuk segera menaklukkan berbagai petualangan yang dideskripsikan Edy. Satu hal yang penting, Edy begitu menggarisbawahi pemaparannya soal standar keamanan.

“Untuk menjelajah alam, kami selalu memprioritaskan keamanan pengunjung. Untuk itu, kami melengkapi berbagai fasilitas keamanan, seperti sepatu antislip, pelampung, helm, kotak P3K, dan sebagainya. Bahkan, perkiraan cuaca dari BMKG sangat kami perhatikan. Kalau prediksi cuaca buruk, kami akan menunda wisata petualangan ini,” ucap pria yang merupakan penduduk asli Pesisir Barat.

Selain peralatan untuk pengunjung, dia juga memperhatikan sekali soal kelayakan alat wisatanya. “Kami mengadakan perawatan berkala. Seperti untuk wahana tubbing, kami perhatikan betul kondisi ban dan tempat duduknya. Kemudian, untuk panjat tebing, tali harus benar-benar dalam kondisi baik,” urai Edy.

Usai memerinci prosedur dan rule of the game-nya, Edy mengajak kami merapat ke Bendungan Way Biha. Sayang, lantaran kami tiba terlampau siang, kami tidak bisa merasakan wisata dengan paket full hari itu.

“Yang memungkinakan, kita akan melakukan susur sungai, susur hutan damar, tubbing, dan makan siang. Setelah itu kita kembali susur sungai dan terakhir yang menjadi ciri khas wisata ini adalah nyeruit bersama dengan menu asli tradisional Lampung. Itu pun bisa sampai sore,” kata dia.

Bendungan Way Biha
Bendungan Way Biha star menyusuri sungai

Di Bendungan Way Biha, kita dimanjakan dengan hamparan rumput hijau di kanan-kiri dam. Di tambah suara air yang deras menggemericik, nuansa alam begitu terasa di tempat ini. Di beberapa sudut bendungan, pengunjung terlihat asyik ber-selfie ria. Dengan beberapa tempat pondokan dan tempat duduk, lokasi ini memang cocok menjadi tempat berekreasi.

Di sisi belakang bendungan, ada dermaga kayu buatan yang menghantarkan kami menuju perahu. Perahu motor inilah yang membawa kami menuju spot tubbing. Sekitar satu setengah jam perjalanan kami lalui menyusuri sungai.

Selama perjalanan air itu, kami disuguhi panorama spektakuler. Kanan-kiri sungai yang merupakan hutan marga itu masih tampak natural. Rimbunnya pepohonan dan suara-suara hewan liar amat memanjakan pancaindra. Dari kejauhan, tampak liukan-liukan aliran sungai dengan dibatasi tebing–tebing dan akar pohon yang menjuntai ke air; terbentuk secara alami.

Sesaat kami sampai di lokasi tubbing, Pak Edy menepikan perahunya. Kami diajak melaui jalan darat untuk melihat hutan damar. Tak hanya melihat-lihat, di sana kami juga diajak untuk mempraktikkan cara memanen getah damar kualitasnya sudah diakui dunia itu.

Setengah jam melalui jalan darat, kami sampai di spot tubbing. Di sana sudah ada petugas yang mempersiapkan alat-alat untuk kami berpetualang, seperti ban yang didesain khusus dengan tempat duduknya, pelampung, helm, dan sepatu antislip.

Arus sungai saat itu cukup ideal untuk menemani kami menaklukkan alur sungai yang berkelok-kelok. Tanpa harus mengayuh, derasnya arus sudah cukup mampu mendorong ban kami. Tugas kami hanya perlu mengatur arah ban agar tetap berada jalur arus. Jangan khawatir ketika nanti Anda terdampar di tepi sungai. Petugas dari Ekowisata Way Biha siaga untuk mengarahkan ban ke tengah sungai.

Luncuran

Sungai Way Biha
Air nan jernih dan sejuk menyambut kami

Saat meluncur dari titik start, sensasi bertualang mulai terasa. Saat jeram mengombang-ambing ban kami, percikan air yang sejuk terasa segar ketika mengguyur tubuh. Di saat yang bersamaan, kami dituntut fokus mengemudikan ban agar tetap berada di arus sungai. Keseruan makin menjadi saat ban kami menuju sisi sungai yang berarus deras. Ban akan liar dan sulit diarahkan. Namun, dengan segala keseruan itu, kami tak khawatir soal kemamanan, karena petugas selalu mengawasi dari pinggir sungai. Ketika ban kami tersangkut atau terblalik, sejurus kemudian mereka datang membantu. Sangat safety!

Sekitar satu jam mengarungi sungai, kami sampai di titik henti. Kebetulan, di spot itu air agak tenang, sehingga kami memilih berenang menikmati kesegaran air Way Biha. Sementara di pinggir suangai, Edy dan kru sudah menyajikan menu makan siang. Aktivitas yang cukup menguras tenaga ditambah hawa dingin setelah berlama-lama di air hampir membuat tak mampu mengontrol lapar. Santapan yang dihidangkan pun ludes kami lahap.

Usai rehat sejenak setelah makan, kami pun melanjutkan petualangan kembali menyusuri sungai dengan perahu jukung. Hembusan angin sejuk yang sepoi-sepoi sambil merebahkan diri di atas kapal mampu mengobati rasa lelah yang bergelayut.

Kami pun merapat kembali ke Bendungan Way Biha. Masih dengan baju dan badan basah, kami menuju rumah Edy. Di sana, keluarga Edy yang asli ulun Lampung menyuguhkan hidangan tradisional asli khas Pesisir Barat. Disajikan secara lesehan, menu-menu yang terdiri dari gulai terung, sayur rebung, ikan lodeh, dan sambal seruit mampu menggugah nafsu makan kami. Rasanya yang khas menjadi penutup sempurna petualangan kami di Ekowisata Way Biha hari itu. (KL)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here