Agus, Sopir Itu Kudu Sabar

0
213
Agus Sopir kudu sabar

Kulinerlampung.com–Jalan Lintas Barat Gedongtataan, Pesawaran sedang padat, Sabtu sore (12/7/14). Di kabin, di belakang setir, Agus Hermawan (34) terlihat gusar mengakselerasi Toyota Fortuner BE-1-R yang dikendarainya.

Matanya bolak-balik melirik jam dashboard. Detak jam digital itu seperti memburu untuk segera sampai ke Kompi Senapan B Gedongtataan.

Sementara, Aries Sandi Darma Putera, bos besar yang sedang disopiri Agus tampak santai di jok belakang sopir.

Sepotong senjata api pistol jenis FN Buatan Swedia sedang dia bongkar untuk mengelap bagian-bagian penting.

Beberapa peluru juga dielus-elus untuk memastikan keutuhannya. Hari itu, Bupati Kabupaten Pesawaran itu berjadwal latihan menembak di Markas TNI di bilangan Gedongtataan.

“Waktu itu, saya mbawa bupati mau latihan menembak. Karena udah telat, saya ngebut. Pas di Depan Ciomas (perusahaan proodusen So Good, red) saya numbur mobil Grand Max ekspedisi. Bapak (bupati) lagi mbersihin senjata. Blaaaarrrr…peluru-pelurunya tabur ke mana-mana. Saya gemeter….darah saya abis,” kata Agus menceritakan kisah tragisnya.

Sepotong kisah dramatis itu menjadi pengingat bagi bapak dua anak yang sekarang menjadi sopir Achmad Sudarto, Direktur Komersil PTPN VII itu.

Ia mencatat hari nahas itu sebagai hari terburuk dalam hidupnya. Dan, peristiwa itu menjadi pelajaran untuk lebih berhati-hati dalam mengendarai mobil di jalanan.

“Di jalanan itu, jenderal sama tukang cukup nggak ada bedanya. Kalau udah nabrak, ya pasti ada korban.

Makanya, saya walaupun saya bawa LC Prado (Toyotan Land Cruiser seri Prado, red), tetap ngalah sama angkot kalau memang hak dia,” kata dia.

Pengalaman menjadi sopir bupati selama tiga tahun menjadi menjadi referensi untuk diterima menjadi sopir di perusahaan BUMN yang bermarkas di Bandar Lampung ini. Ia keluar dari status pegawai honorer di Pemkab Pesawaran setelah masa kontraknya tidak diperpanjang.

Semmpat “mbambung” selama empat bulan setelah lepas dari honorer sopir, seorang teman menawarinya kerja di PTPN VII. Setelah melalui tes beberapa tahap, ia memulai menjadi sopir umum di Kantor Direksi.

“Saya masih inget betul, mobil yang pertama saya bawa itu Kijang Kapsul warna biru. Dan yang pertama kali saya bawa itu Pak Agus Ikhsan, waktu itu Kepala Sekretariat, kalau nggak salah,” kata suami dari Siti Aminah.

Bersama Achmad Sudarto, sopir anak sopir yang lahir di Pasar Minggu, Gedongtataan ini mengaku nyaman. Ia juga mengaku pernah mengalami insiden senggolan mobil yang dikendarainya saay hendak mengantar ke Bandar.

“Waktu itu saya buru-buru juga mau nganter ke Bandara. Eh, ada mobil mepet dan akhirnya senggolan. Saya sempat turun dan labrak sopir Avanza itu.

Untungnya, Pak Dirkom mencegah,” kata sopir yang pernah “membawa” Direktur Utama PTPN VII saat Andi Wibisono.

Tentang kemampuannya mengendarai mobil, pria lulusan STM (sekarang SMK) di bilangan Gadingrejo itu mengaku terus belajar. “Saya sekolah jurusan mesin, jadi agak tahulah soal kendaraan. Tetapi, kalau teknologi mobil-mobil baru dan mewah yang saya bawa, memang saya banyak tanya sama teman-teman sopir,” kata dia. (KL)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here